1.Pengertian seks dan seksualitas
Sejak
manusia dilahirkan hingga menjadi manusia dewasa, manusia memiliki dorongan
yang dinamakanlibido. Libido merupakan dorongan seksual yang sudah ada
pada manusia sejak lahir. Libido pada anak berbeda dengan libido pada orang
tua. Kepuasan seks pada anak, pencapaiannya tidak selalu melalui alat
kelaminnya, melainkan melalui daerah-daerah lain yaitu mulut dan anus.
Istilah
“seks” secara etimologis, berasal dari bahasa Latin “sexus” kemudian diturunkan
menjadi bahasa Perancis Kuno “sexe”. Istilah ini merupakan teks bahasa
Inggris pertengahan yang bisa dilacak pada periode 1150-1500 M. “Seks” secara
leksikal bisa berkedudukan sebagai kata benda (noun), kata sifat (adjective),
maupun kata kerja transitif (verb of transitive):
Secara
terminologis seks adalah nafsu syahwat, yaitu suatu kekuatan pendorong hidup
yang biasanya disebut dengan insting/ naluri yang dimiliki oleh
setiap manusia, baik dimiliki laki-laki maupun perempuan yang mempertemukan mereka
guna meneruskan kelanjutan keturunan manusia.
Menurut Ali
Akbar, bahwa nafsu syahwat ini telah ada sejak manusia lahir dan dia mulai
menghayati sewaktu dia menemukan kedua bibirnya dengan puting buah dada ibunya,
untuk menyusui karena lapar. Ia menikmati rasa senang yang bukan rasa kenyang.
Dan inilah rasa seks pertama yang dialami manusia.
Seksualitas
merupakan suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang berkaitan dengan
seks. Dalam pengertian ini, ada 2 aspek (segi) dari seksualitas, yaitu seks
dalam arti sempit dan seks dalam arti luas. Seks dalam arti yang sempit berarti
kelamin, yang mana dalam pengertian kelamin ini, antara lain:
1.
Alat kelamin
itu sendiri
2.
Anggota
tubuh dan ciri badaniyah lainnya yang membedakan antara laki-laki dan perempuan
3.
Kelenjar-kelenjar
dan hormon-hormon dalam tubuh yang mempengaruhi bekerjanya lat-alat kelamin
4. Hubungan kelamin (sengggama,
percumbuan).
Segi lain
dari seksualitas adalah seks dalam arti yang luas, yaitu segala hal yang
terjadi sebagai akibat (konsekwensi) dari adanya perbedaan jenis kelamin,
antara lain:
1.
Pembedaan
tingkah laku; kasar, genit, lembut dan lain-lain.
2.
Perbedaan
atribut; pakaian, nama.
3.
Perbedaan
peran dan pekerjaan.
4.
Hubungan
antara pria dan wanita; tata krama pergaulan, percintaan, pacaran, perkawinan
dan lain-lain.
Ada tiga
istilah berkaitan dengan seks yang penggunaannya hampir sama dan bahkan kadang
tumpang tindih, yakni seks, gender dan “seksualitas”. Ketiga istilah ini memang
memiliki beberapa kesamaan. Kesamaan yang paling menonjol adalah bahwa
ketiganya membicarakan mengenai "jenis kelamin". Perbedaannya adalah;
seks lebih ditekankan pada keadaan anatomis manusia yang kemudian memberi
"identitas" kepada yang bersangkutan. Jika seks adalah jenis kelamin
fisik, maka gender adalah "jenis kelamin sosial" yang identifikasinya
bukan karena secara kodrati sudah given (terberikan),
melainkan lebih karena konstruksi sosial. Satpam dan sekretaris adalah dua
contoh ekstrem mengenai gender, jenis kelamin sosial akibat dikonstruksi
masyarakat.
Seksualitas
lebih luas lagi maknanya mencakup tidak hanya seks, tapi bahkan kadang juga
gender. Jika seks mendefinisikan jenis kelamin fisik hanya pada
"jenis" laki-laki dan perempuan dengan pendekatan anatomis, maka
seksualitas berbicara lebih jauh lagi, yakni adanya bentuk-bentuk lain di luar
itu, termasuk masalah norma. Jika seks berorientasi fisik-anatomis dan gender
berorientasi sosial, maka seksualitas adalah kompleksitas dari dua jenis
orientasi sebelumnya, mulai dari fisik, emosi, sikap, bahkan moral dan
norma-norma sosial.
Michel Foucault memberikan pengertian seks
keluar dari jalur wacana seksualitas pada umumnya, melainkan pada persoalan
metodologis di mana penulis harus memahami bahasa pemikir yang sedang dikaji,
sehingga tidak kehilangan makna; dengan demikian orientasi penelitian ini
nantinya mengarah kepada pengertian seks dan seksualitas menurut Michel
Foucault.
Seks (sexe)
menurut Michel Foucault, tidak sebagaimana adanya, bukan wujud real dan tunggal
sesuai dengan definisi yang diberikan kepadanya dalam wacana. Seks bukanlah
realitas awal dan seksualitas bukanlah hanya dampak sekunder, melainkan
sebaliknya, seks dibawahi secara historis oleh seksualitas. Jangan menempatkan
seks di sisi realitas dan seksualitas di sisi gagasan kabur dan ilusi.
Seksualitas
adalah figur historis yang sangat real, dan seksualitas-lah yang menimbulkan
pengertian seks sebagai unsur spekulatif yang perlu bagi cara kerja
seksualitas. Michel Foucault kemudian harus mendefinisikan seksualitas dalam
hubungannya dengan sejarah: Seksualitas (sexualit): adalah nama yang
dapat diberikan pada suatu sistem historis: bukan realitas bawahan yang sulit
ditangkap, melainkan jaringan luas di permukaan tempat rangsangan badaniah,
intensifikasi kenikmatan, dorongan terbentuknya wacana, pembentukan
pengetahuan, pengokohan pengawasan dan tentangan, saling berkait sesuai dengan
strategi besar pengetahuan dan kekuasaan".
2. Konteks Seksualitas
Lazimnya opini yang berkembang di Indonesia pekerja seks perempuanperempuan merupakan aset, tidak jarang juga yang menganggapnya sebagai komoditi yang bisa dieksploitasi. Namun, ketika ditilik lebih mendalam, konsep yang berkembang tidak sedangkal itu. Sangat jarang sekali opini yang digulirkan terkait dengan konsep pekerja seks perempuanperempuan sebagai salah satu komponen yang ikut andil untuk perubahan di Indonesia. Karena sebagian besar menganggap bahwa pekerja seks perempuanperempuan merupakan patologi masyarakat. Ketidakarifan cara pandang yang demikian semakin memperterjal kesenjangan sosial dan pencitraan buruk terhadap pekerja seks perempuanperempuan. Secara hakiki, pekerjaan yang dilakukan mereka memang tidak lazim dan merugikan pihak lain. Akan tetapi, sering kali pemerintah hanya memandang permasalan prostitusi hanya sebatas masalah moral. Seperti halnya masyarakat memandang seksialitas hanyalah sebagai permasalahan moral. Padahal jika dikupas lebih mendalam ini merupakan kesalahan pemerintah atas ketidakmampuan mereka dalam memberantas kemiskinan yang struktural. Sehingga dampak yang terjadi adalah cara pandang biner yang seolah-olah kodrati yakni baik dan buruk, salah dan benar. Secara tidak langsung ini merupakan justifikasi sosial terhadap pekerja seks perempuanperempuan.
Padahal ketika memotret kehidupan pekerja seks perempuanperempuan tidak selalu seperti yang digambarkan dalam film-film. Kehidupan mereka jauh lebih pelik, sebagian besar alasan yang menarik mereka ke dunia prostitusi adalah aspek ekonomi. Mereka terbentur dengan norma, namun mereka harus realistis untuk menghidupi keluarganya. Hampir seluruh pekerja seks perempuanperempuan yang terdapat di Malang Raya masuk ke lokalisasi karena terlilit masalah ekonomi yang penyebab awalnya adalah perceraian (ditelantarkan oleh suaminya atau pengalaman pahit lainnya dalam berumah tangga). Latar belakang yang seperti ini mendominasi di Malang Raya. Secara empirik, mereka melakukannya dengan keterpaksaan. Perjuangan mereka pada dasarnya bisa dilihat ketika melakukan negosiasi dan transaksi. Dalam konteks inilah perjuangan mereka mulai dilakukan, dengan mempertahankan bargaining position di hadapan laki-laki. Konstruksi yang selama ini dipatronkan dalam kehidupan sehari-hari kita adalah ketidakseimbangan relasi anatar laki-laki dan perempuan. Dalam konteks inilah mereka memperjuangkan hak-hak mereka sebagai seorang perempuan yang telah mengalami kekerasan ekonomi yang dilakukan oleh Negara.
Pekerja seks perempuanperempuan sebenarnya mengalami multi burden (beban berlipat) dalam menjalankan peran sosialnya yang selalu dibenturkan dengan agama, nilai, kesepakatan dan moral di lingkungan sekitar. Sehingga pelaksanaan secara empiriknya mereka masih membutuhkan bantuan untuk bangkit dan memperjuangkan hak-hak mereka sebagai perempuan yang nota benenya juga merupakan Warga Negara Indonesia yang juga harus mendapatkan hak dan melakukan kewajiban yang sama dengan yang lain tanpa ada diskriminasi dan marjinalisasi. Mimpi untuk membubarkan prostitusi akan sia-sia saja ketika konsep berpikir dan regulasi Negara masih bersifat prosedural dan tidak substantif. Gambaran umum yang acap kali terjadi adalah mereka kalah saat melakukan negosiasi dengan pelanggan. Ini merupakan kunci awal untuk melakukan perubahan di diri mereka. Perubahan yang dimaksud adalah membangkitkan kepercayaan diri mereka sehingga outputnya adalah mereka bisa mempertahankan bargaining position mereka sebagai seorang perempuan, termasuk dalam konteks seksualitas.
Sebagian besar masyarakat Indonesia masih memandang fenomena prostitusi masih secara esensialis. Mereka hanya memandang dengan menggunakan dua indikator, baik dan buruk. Hal ini dikarenakan mental dan tatanan struktur yang terbentuk di bawah adalah juga turut menentukan. Ini merupakan konstruksi warisan yang susah untuk diurai dan didefinisikan secara kritis. Begitu juga cara pandang masyarakat terkait dengan fungsi reproduksi perempuan, dimana di dalamnya reproduksi tidak dipandang sebagai dua hal yang dimiliki oleh perempuan yakni hak dan kesehatan. Melainkan cara pandang yang bergulir adalah reproduksi hanya dipandang sebagai peran reproduksi secara murni yang akhirnya berdampak terhadap pemahaman atas relasi kuasa dan seksualitas antara laki-laki dan perempuan. Sehingga dalam memaknai dan memahami seksualitas mereka juga hanya berkutat pada pembahasan seks yang normal dan tidak normal, baik dan buruk, heteroseks adalah baik dan homoseks adalah buruk. Hal ini senada dengan yang dikemukakan oleh Gayle Rubin, hanya ada baik dan buruk, normal dan tidak normal dalam mendefinisikan seksulatas. Sehingga masyarakat hanya terkotakkan pada wilayah biner yang tidak pernah ada ujungkan. Belum lagi ketika teks agama mendukung praktik pemahaman dan cara pandang masyarakat dan Negara yang masih seperti ini. Pembacaan ajaran agama dan isi kitab suci tidak bisa dimaknai secara mentah-mentah. Namun pembacaan yang holistic dan kontekstuallah yang dibutuhkan di sini. Protitusi merupakan sebuah tindakan yang menggunakan tubuh mereka untuk mendapatkan kesejahteraan baik secara ekonomi dan psikologis. Sehingga pada dasarnya pekerja seks perempuanjuga tetap memiliki kuasa atas tubuh mereka karena merupakan hak asasi yang mereka miliki. Disebut sebagai hak asasi karena hak tersebut melekat (inheren) pada diri manusia dan dimiliki semua manusia.
Konsep awal yang harus tertanam dalam diri mereka adalah mereka harus menyadari betul bahwa mereka memiliki hak yang sama dalam konteks seksualitas. Karena merupakan pemandangan yang tidak asing lagi ketika pelanggan atau tamu di lokaliasasi meremehkan dan memandang mereka sebelah mata. Sehingga yang sering kali terjadi adalah anggapan tubuh perempuan untuk dikuasai dan pekerja seks perempuanmengamini itu tanpa ada konsep yang jelas untuk melakukan perlawanan. Perlawanan yang dimaksudkan di sini dalam konteks seksualitas adalah melawan secara konsep terlebih dahulu batu berupa aksi untuk komunitas. Adanya pemahaman awal atau konsep dasar mereka berpikir atas kesetaraan gender dan keseimbangan seksualitas antara laki-laki dan perempuan. Sehingga pekerja seks perempuanperempuan tidak merasa bahwa tubuh mereka adalah komoditi dan aset. Ketika sudah dalam kondisi tersebut, maka mereka sudah berpikir bahwa mereka bukan lagi sebagai objek melainkan harus berperan sebagai subjek yang memiliki kuasa tubuh atas dirinya.
Secara umum, mereka harus menyadari terlebih dulu bahwa seksualitas merupakan bagian dari kehidupan mereka. Tidak ada penolakan-penolakan lagi dengan kata lain mereka harus tuntas terkait dengan pemaknaan seksualitas. Indikatornya adalah mereka sudah bisa membedakan mana yang disebut sebagai kenikmatan (pleasure) atau kengerian (danger) dalam melakukan aktifitas seks. Kemudian mereka melakukan pemaknaan atau reintepretasi kerangka berpikir mereka bahwa yang harus mereka rasakan adalah pleasure sebagai modal awal untuk melakukan perubahan di komunitas mereka atas posisi mereka. Kalau dimaknai secara harfiah ini akan melegalkan profesi mereka, namun pemaknaan itu tidak secara tekstual. Secara kontekstual perubahan akan terjadi mereka mendapatkan hak seksualitasnya sebagai seorang perempuan dan terentaskan dari kemiskinan struktural serta keluar dari dunia prostitusi.
Ketika pekerja seks perempuanperempuan mengetahui betul bahwa dirinya memiliki kuasa dan kendali penuh atas tubuh dan seksualitasnya, maka tidak ada lagi yang namanya kekerasan fisik maupun seksual yang dilakukan pelanggan. Selama ini yang menjadi masalah besar bagi mereka adalah ketakutan atas hal-hal tersebut, selain itu ditambahi lagi dengan pola pikir mereka yang menganggap diri mereka adalah obyek dalam konteks seksualitas laki-laki dan perempuan. Sehingga keseimbangan seksualitas bagi pekerja seks perempuanperempuan perlu menjadi pemahaman untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Minimal mereka memiliki keeprcayaan diri untuk mendapatkan haknya. Ketika sudah mendapatkan haknya maka dia harus melakukan kewajibannya untuk membantu rekan kerjanya untuk mendapatkan hal yang sama. Sehingga nantinya akan membentuk sistem yang kuat utuk melakukan perubahan dalam konteks seksualitas dan sosial. Menghapus kengerian dengan menggantikannya dengan kenikmatan bukan menjadi perkara yang mudah, karena terkait dengan tatanan budaya dan doktrin yang selama dijejalkan ke dalam otak perempuan Indonesia.
Seksualitas bukan menjadi permasalahan tabu yang harus dikesampingkan, melainkan setiap manusia harus mengetahui betul tentang hal ini. Idealnya sudah tidak ada lagi pengkotakan definisi seksualutas secara dangkal oleh masyarakat. .Karena akan berimbas pada pembuatan keputusan-keputusan sosial. Pekerja seks perempuan dan seksualitas seperti dua mata mata pedang yang di sisi lain bisa membunuh tapi di sisi lainnya bersifat sebaliknya. Namun, saat ini sudah saatnya menggunakan pedang tersebut dengan arif. Karena republik ini juga menjadi hak milik kaum marjinal. Tuntasnya konsep seksualitas di lokalisasi juga akan membantu meraih hak kesehatan pekerja seks. Secara mandiri mereka akan memiliki kesadaran yang individual maupun komunal untuk melakukan penanggulangan terhdapa HIV/AIDS, dimulai dari kesadaarn mereka untuk merawat hak reproduksi mereka agar tidak terkena Infeksi Menular Seksual (IMS) yang merupakan pintu masuk daari HIV/AIDS. Hal konkrit yang harus tetap dilakukan untuk menjaga ritme perubahan adalah meningkatkan kualitas hidup pekerja seks perempuan melalui kegiatan-kegiatan yang berdampak langsung bagi diri mereka. Hak sehat pada perempuan juga dijamin oleh Negara, sehingga mereka para pekerja seks perempuan juga harus mendapatkan perlakuan hak yang sama dengan warga Negara yang lainnya dalam hal pemenuhan atas segala hak asasi yang mereka miliki.
3.Perkembangan
seksualitas
Sampai saat ini masalah perkembangan
seksual remaja masih menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan. Pada masa
remaja rasa ingin tahu terhadap masalah seksual sangat penting dalam
pembentukan hubungan baru yang lebih matang dengan lawan jenis. Padahal
pada masa remaja informasi tentang masalah seksual sudah seharusnya mulai
diberikan, agar remaja tidak mencari informasi dari orang lain atau dari
sumber-sumber yang tidak jelas atau bahkan keliru sama sekali.
Pemberian informasi masalah seksual
menjadi penting terlebih lagi mengingat remaja berada dalam potensi
seksual yang aktif, karena berkaitan dengan dorongan seksual yang dipengaruhi
hormon dan sering tidak memiliki informasi yang cukup mengenai aktivitas
seksual mereka sendiri (Handbook of Adolecent psychology, 1980).
Tentu saja hal tersebut akan sangat
berbahaya bagi perkembangan jiwa remaja bila ia tidak memiliki pengetahuan dan
informasi yang tepat. Fakta
menunjukkan bahwa sebagian besar remaja kita tidak mengetahui dampak dari
perilaku seksual yang mereka lakukan, seringkali remaja
sangat tidak matang untuk melakukan hubungan seksual terlebih lagi jika harus
menanggung resiko dari hubungan seksual tersebut.
Karena meningkatnya minat remaja
pada masalah seksual dan sedang berada dalam potensi seksual yang aktif,
maka remaja berusaha mencari berbagai informasi mengenai hal tersebut. Dari
sumber informasi yang berhasil mereka dapatkan, pada umumnya hanya
sedikit remaja yang mendapatkan seluk beluk seksual dari orang tuanya.
Oleh karena itu remaja mencari atau mendapatkan dari berbagai sumber informasi
yang mungkin dapat diperoleh, misalnya seperti di sekolah atau perguruan
tinggi, membahas dengan teman-teman, buku-buku tentang seks, media massa atau
internet.
Memasuki Milenium baru ini sudah
selayaknya bila orang tua dan kaum pendidik bersikap lebih tanggap dalam
menjaga dan mendidik anak dan remaja agar ekstra berhati-hati terhadap
gejala-gejala sosial, terutama yang berkaitan dengan masalah seksual, yang
berlangsung saat ini.
Seiring perkembangan yang terjadi
sudah saatnya pemberian penerangan dan pengetahuan masalah seksualitas pada
anak dan remaja ditingkatkan. Pandangan sebagian besar masyarakat yang
menganggap seksualitas merupakan suatu hal yang alamiah, yang nantinya akan
diketahui dengan sendirinya setelah mereka menikah sehingga dianggap suatu hal
tabu untuk dibicarakan secara terbuka, nampaknya secara perlahan-lahan harus
diubah.
Sudah saatnya pandangan semacam ini
harus diluruskan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan
membahayakan bagi anak dan remaja sebagai generasi penerus bangsa. Remaja
yang hamil di luar nikah, aborsi, penyakit kelamin, dll, adalah contoh
dari beberapa kenyataan pahit yang sering terjadi pada remaja sebagai akibat
pemahaman yang keliru mengenai seksualitas.
Karakteristik Seksual Remaja
Pengertian seksual secara umum
adalah sesuatu yang berkaitan dengan alat kelamin atau hal-hal yang berhubungan
dengan perkara-perkara hubungan intim antara laki-laki dengan perempuan.
Karakter seksual masing-masing jenis kelamin memiliki spesifikasi yang berbeda
hal ini seperti yang pendapat berikut ini : Sexual characteristics are
divided into two types. Primary sexual characteristics are directly related to
reproduction and include the sex organs (genitalia). Secondary sexual
characteristics are attributes other than the sex organs that generally
distinguish one sex from the other but are not essential to reproduction, such
as the larger breasts characteristic of women and the facial hair and deeper
voices characteristic of men (Microsoft Encarta Encyclopedia 2002)
Pendapat tersebut seiring dengan
pendapat Hurlock (1991), seorang ahli psikologi perkembangan, yang mengemukakan
tanda-tanda kelamin sekunder yang penting pada laki-laki dan perempuan. Menurut
Hurlock, pada remaja putra : tumbuh rambut kemaluan, kulit menjadi kasar,
otot bertambah besar dan kuat, suara membesar dan lain,lain. Sedangkan pada
remaja putri : pinggul melebar, payudara mulai tumbuh, tumbuh rambut kemaluan,
mulai mengalami haid, dan lain-lain.
Seiring dengan pertumbuhan primer
dan sekunder pada remaja ke arah kematangan yang sempurna, muncul juga hasrat
dan dorongan untuk menyalurkan keinginan seksualnya. Hal tersebut merupakan
suatu yang wajar karena secara alamiah dorongan seksual ini memang harus
terjadi untuk menyalurkan kasih sayang antara dua insan, sebagai fungsi
pengembangbiakan dan mempertahankan keturunan.
Perilaku Seksual
Perilaku seksual adalah segala
tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun
sesama jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku ini dapat beraneka ragam, mulai dari
perasaan tertarik hingga tingkah laku berkencan, bercumbu dan senggama. Obyek
seksual dapat berupa orang, baik sejenis maupun lawan jenis, orang dalam
khayalan atau diri sendiri. Sebagian tingkah laku ini memang tidak memiliki
dampak, terutama bila tidak menimbulkan dampak fisik bagi orang yang
bersangkutan atau lingkungan sosial. Tetapi sebagian perilaku seksual (yang
dilakukan sebelum waktunya) justru dapat memiliki dampak psikologis yang sangat
serius, seperti rasa bersalah, depresi, marah, dan agresi.
Sementara akibat psikososial yang
timbul akibat perilaku seksual antara lain adalah ketegangan mental dan
kebingungan akan peran sosial yang tiba-tiba berubah, misalnya pada kasus
remaja yang hamil di luar nikah. Belum lagi tekanan dari masyarakat yang
mencela dan menolak keadaan tersebut. Selain itu resiko yang lain adalah
terganggunya kesehatan yang bersangkutan, resiko kelainan janin dan tingkat
kematian bayi yang tinggi. Disamping itu tingkat putus sekolah remaja hamil
juga sangat tinggi, hal ini disebabkan rasa malu remaja dan penolakan sekolah
menerima kenyataan adanya murid yang hamil diluar nikah. Masalah ekonomi juga
akan membuat permasalahan ini menjadi semakin rumit dan kompleks.
Berbagai perilaku seksual pada
remaja yang belum saatnya untuk melakukan hubungan seksual antara lain dikenal
sebagai :
· Masturbasi
atau onani yaitu suatu kebiasaan buruk berupa manipulasi terhadap alat genital
dalam rangka menyalurkan hasrat seksual untuk pemenuhan kenikmatan yang
seringkali menimbulkan goncangan pribadi dan emosi.
· Berpacaran
dengan berbagai perilaku seksual yang ringan seperti sentuhan, pegangan tangan
sampai pada ciuman dan sentuhan-sentuhan seks yang pada dasarnya adalah
keinginan untuk menikmati dan memuaskan dorongan seksual.
· Berbagai
kegiatan yang mengarah pada pemuasan dorongan seksual yang pada dasarnya
menunjukan tidak berhasilnya seseorang dalam mengendalikannya atau kegagalan
untuk mengalihkan dorongan tersebut ke kegiatan lain yang sebenarnya masih
dapat dikerjakan.
Dorongan atau hasrat untuk melakukan
hubungan seksual selalu muncul pada remaja, oleh karena itu bila tidak ada
penyaluran yang sesuai (menikah) maka harus dilakukan usaha untuk memberi
pengertian dan pengetahuan mengenai hal tersebut.
Adapun faktor-faktor yang dianggap
berperan dalam munculnya permasalahan seksual pada remaja, menurut Sarlito W.
Sarwono (Psikologi Remaja,1994) adalah sebagai berikut :
· Perubahan-perubahan
hormonal yang meningkatkan hasrat seksual remaja. Peningkatan hormon ini
menyebabkan remaja membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku tertentu
· Penyaluran
tersebut tidak dapat segera dilakukan karena adanya penundaan usia perkawinan,
baik secara hukum oleh karena adanya undang-undang tentang perkawinan, maupun
karena norma sosial yang semakin lama semakin menuntut persyaratan yang terus
meningkat untuk perkawinan (pendidikan, pekerjaan, persiapan mental dan
lain-lain)
· Norma-norma
agama yang berlaku, dimana seseorang dilarang untuk melakukan hubungan seksual
sebelum menikah. Untuk remaja yang tidak dapat menahan diri memiliki
kecenderungan untuk melanggar hal-hal tersebut.
· Kecenderungan
pelanggaran makin meningkat karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan
melalui media masa yang dengan teknologi yang canggih (VCD/DVD, buku stensilan,
Photo, majalah, internet, dan lain-lain) menjadi tidak terbendung lagi. Remaja
yang sedang dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba, akan meniru apa dilihat
atau didengar dari media massa, karena pada umumnya mereka belum pernah
mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orangtuanya.
· Orangtua
sendiri, baik karena ketidaktahuannya maupun karena sikapnya yang masih
mentabukan pembicaraan mengenai seks dengan anak, menjadikan mereka tidak
terbuka pada anak, bahkan cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah
ini.
· Adanya
kecenderungan yang makin bebas antara pria dan wanita dalam masyarakat, sebagai
akibat berkembangnya peran dan pendidikan wanita, sehingga kedudukan wanita
semakin sejajar dengan pria.
Dengan mengetahui faktor-faktor
tersebut di atas, maka orang tua bisa mengambil langkah-langkah antisipatif
terbaik sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan akibat
perkembangan seksualitas pada remaja tersebut.
4.Pola
fungsi seksual
Kemampuan dokter untuk melakukan anamnesa seksual
sangat penting sehingga dapat menetapkan langkah penatalaksaan masalah seksual
yang dihadapi oleh seorang penderita. Pemahaman mengenai respon seksual
memungkinkan dokter untuk dapat membantu sejumlah masalah seksual
sederhana.
Investigasi ilmiah berkaitan dengan respon seksual
sangat diperlukan dalam memahami masalah seksual yang terjadi, namun oleh
karena masalah seksual ini merupakan masalah yang sifatnya amat pribadi maka
sangat sedikit dokter yang menaruh minat dalam bidang ini. Sejumlah ahli dalam
masalah ini adalah :
- Sigmund Freud ( 1856 – 1939 ) seorang dokter Austria yang merupakan penemu dari psikoanalisa dan yang pertama kali mengetahui arti penting kehidupan masa kanak kanak dalam kehidupan seksual seseorang.
- Havelock Ellis (1859 – 1939 ) ahli peneliti di Rumah Sakit St Thomas di London. Bukunya yang berjudul “ Studies In The Psychology Of Sex” volume ketujuh melahirkan kontroversi namun yang pertama kali digunakan sebagai dasar penatalaksanaan gangguan seksual.
- Alfred Kinsey ( 1894 – 1956 ) seorang zoologis Amerika yang menjadi direktur Indiana University’s Institute for Sex Researche tahun 1942. Untuk meneliti tentang pengalaman seksual “ normal” dia melakukan wawancara terhadap 18500 orang Amerika dan hasilnya adalah sebuah publikasi yang berjudul “ Sexual Behaviour In the Human Male “pada tahun 1948 dan “ Sexual Behaviour In the Human Female “ pada tahun 1953
- Master and Johnson : Seorang dokter yang bernama William Master ( lahir tahun 1915 ) dan seorang psikologis bernama Virginia Johnson ( lahir tahun 1925 ) dari Washington University St Louis melakukan untuk pertama kalinya satu observasi langsung darfi aktivitas seksual di laboratorium. Publikasi dari hasil penelitian tersebut tertuang dalam buku “ Human Sexual Respon” tahun 1966 dan “ Human Sexual Inadequacy” tahun 1970
RESPON SEKSUAL NORMAL
Respon seksual normal pada manusia terdiri dari 5 fase
:
- Fase Hasrat Seksual
- Fase Gairah Seksual
- Orgasme
- Fase Resolusi
- Fase Refrakter
FASE HASRAT SEKSUAL
Hasrat seksual adalah tingkatan umum dari satu
ketertarikan dalam masalah seksual. Fase ini di modulasi oleh hormon yang juga
berpengaruh terhadap keterarikan seksual pada masa pubertas. Modulator utama
pada laki dan perempuan adalah hormon testosteron
FASE GAIRAH SEKSUAL
Fase ini terdiri dari 3 komponen :
- Komponen Sentral
- Komponen Genital
- Komponen Perifer
Komponen Sentral
Merupakan repon terhadap rangsangan seksual yang dapat
berbentuk sentuhan, visual, khayalan internal, atau dari satu bentuk hubungan
tertentu. Rangsangan bekerja pada kortek serebri ( gambar dibawah ). Area
serebrum yang terlibat adalah sistem Limbik. Sistem ini terdiri dari pusat
eksitasi yang melibatkan endorfin sebagai satu neurotransmiter dan pusat
inhibisi yang sangat erat hubungannya dengan pusat untuk rasa cemas dan
nyeri.
Komponen Genital
Jalur spinal yang pasti menuju ke arah genital masih tidak
diketahui dengan pasti namun nampaknya dekat dengan jalur spinothalamik untuk
sensasi temperatur dan rasa nyeri. Respon genital adalah berupa vasokongesti
dan perubahan neuromuskuler. Dilatasi arteriol dikendalikan oleh jalur
parasimpatik pada S 2,3,4 melalui nervus erigentes.
Selain itu diduga adanya keterlibatan dari jalur simfatis thorakal.
Neurotransmiter lokal yang terkait adalah VIP – vasoactive intestinal
polypeptide , satu vasodilator poten yang berada di penis dan vagina.
Pada pria, ketegangan pada corpus cavernosum disebabkan
oleh dilatasi arteri dan penurunan aliran vena. Skrotum menjadi ketat akibat
kontraksi muskulus darto dan testis terangkat akibat kremaster
a. Penampang yang memperlihatkan jaringan erektil dan
pembuluh darah utama
b. Jaringan erektil , masing masing krus corpus
cavernosus mengadakan insersi pada os pubis
Pada wanita terjadi ketegangan pada pleksus venosus
sekitar vagina bagian distal dan bulbus vestibuli sekitar introitus vagina.
Labia minor kemerahan dan tegang. Ereksi klitoris dan mendekati simfisis pubis.
Vagina menjadi basah akibat transudasi akibat aliran darah vagina yang
meningkat. Cairan vagina ini bukan produksi kelenjar. Kontribusi sekresi servik
dan kelenjar Bartholine sangat kecil.
Uterus menjadi tegang dan ukurannya meningkat serta naik.
Vagina bagian atas menjadi lebar dan terdapat kontraksi iregular perlahan dari
sepertiga bagian bawah vagina.
Pada pria dan wanita namun lebih sering pada pria,
respon genital sangat erat berhubungan dengan respon sentral sehingga dengan
demikian maka fase gairah seksual ini menjadi bersifat “self-amplifying”
Komponen Perifer
Gairah seksual menyebabkan :
- Peningkatan tekanan darah sistolik dan distolik ( kadang hanya bersifat transien )
- Flushing generalisata pada seluruh kulit
- Denyut nadi bertambah atau berkurang
- Perubahan frekuensi pernafasan
- Dilatasi pupil
FASE PLATEAU
Bila gairah seksual sudah sempurna maka sampailah pada
fase plateu dimana pasangan dapat memperpanjang kenikmatan sanggama sebelum sampai
pada fase orgasme. Bila fase ini berkepanjangan maka sanggama akan justru
menyakitkan baik pada pria ataupun pada wanita.
ORGASME
Orgasme melibatkan perubahan pada genital, muskular
dan sensoris serta respon kardiovaskular dan pernafasan
Pria
Pertama kali terjadi kontraksi otot polos epidedimis –
vase deferen – vesika seminalis – prostat dan ampula mendorong cairan prostat
dan vesika seminalis kedalam bulbus urethralis. Kemudian pria merasa bahwa
orgasme akan segera terjadi dan dalam beberapa detik kemudian akan terjadi
ejakulasi. Sfingter internal vesika urinaria tetap menutup namun sfinter
eternal akan relaksasi dam cairan semen akan masuk kedalam urethra melalui
kontraksi ritmis dari muskulus bulbospongiosus dan ischiocavernosus.
Wanita
Beberapa detik setelah perasaan subjektif orgasme
terjadi spasme otot sekitar sepertiga bagian bawah vagina yang diikuti dengan
kontraksi ritmis sebanyak 5 – 8 kali. Pada saat itu juga dapat terjadi
kontraksi uterus.
Pada pria dan wanita
- Terdapat kontraksi muskulus rectus abdominis, sfingter ani dan spasme karpopedal.
- Terdapat peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik sekitar 25 mmHg
- Hipervetilasi
- Rasa menyenangkan dan perubahan kesadaran dalam berbagai tingkatan
FASE RESOLUSI
Hal hal yang terjadi Fase gairah Seksual secara
berangsur angsur mereda. Pada pria, ereksi penis secara bertahap berkurang dan
kembali ke ukuran semula. Pada wanita, bila tidak terjadi orgasme maka
ketegangan atau kongesti organ panggul memerlukan beberapa jam untuk mereda dan
terasa sangat tidak menyenangkan.
Pada pria dan wanita terdapat perasaan santai yang
menyenangkan namun dengan intensitas dan durasi pada pria dan wanita yang tidak
sama.
FASE REFRAKTER
Satu interval dimana stimulasi tidak menghasilkan
respon. Pada pria hal ini dapat berlangsung beberapa menit sampai beberapa jam
tergantung usia. Beberapa wanita tidak mengalami fase refrakter dan sejumlah
wanita dapat memperoleh orgasme yang multiple ( 14%)
SIKLUS
RESPON SEKSUAL WANITA
1. Fase Eksitasi :
2. Fase Plateau :
Rangsangan seksual yang berupa sentuhan, pengelihatan,
pendengaran, penciuman, pengecapan serta imaginasi akan menyebabkan terjadinya
perubahan fisik seorang lebih lanjut. Terjadi pengeluaran cairan didalam vagina
sehingga vagina, labia serta vulva menjadi semakin lembab. Cairan ini berfungsi
sebagai pelicin (lubrikasi) saat terjadi hubungan kelamin. Vagina akan
mengembang dan klitoris membesar dan terjadi retraksi sehingga klitoris menjadi
semakin terbuka dan menonjol. Puting susu menjadi keras dan tegang.
Kelenjar Bartholine mensekresi cairan disekitar pintu
masuk vagina sehingga pasase sperma menjadi lebih mudah.
Terjadi peningkatan tekanan darah, frekuensi
pernafasan, frekuensi nadi dan ketegangan otot-otot tertentu.
3. Fase Orgasme
Fase ini merupakan pelepasan dari ketegangan seksual.
Fase orgasme dapat berlangsung tanpa adanya stimulasi fisik yang nyata. Fase
ini terpusat didaerah klitoris, vagina dan uterus.
Pada puncak fase gairah otot-otot sekitar vagina,
uterus, perut bagian bawah dan anus mengalami kontraksi secara ritmik dan menyebabkan
terjadinya sebuah sensasi yang menyenangkan. Biasanya terjadi 5 – 12 kontraksi
yang sinkron dengan jeda masing-masing kontraksi sekitar 1 detik.
Kontraksi pada detik-detik pertama sangat kuat dan
jeda yang sangat singkat. Tekanan darah, frekuensi nadi dan frekuensi
pernafasan mencapai puncaknya dan terjadi hilangnya kendali tonus otot-otot
bergaris ( beberapa wanita secara tidak sadar meluruskan jari-jari kakinya saat
orgasme – carpopedal reflex ) Inilah yang disebut sebagai suatu “sexual
climax” .
Seorang wanita dapat mengalami orgasme berulangkali
sebelum mereka masuk kedalam fase resolusi.
4. Fase resolusi
Vagina, klitoris, dan daerah sekitarnya kembali
normal. ‘sex flush’ didaerah dada menghilang, tekanan darah dan frekuensi nadi
dan frekuensi pernafasan kembali normal. Perasaan wanita menjadi tenang dan
santai dan seringkali diikuti dengan perasaan mengantuk.
SIKLUS
RESPON SEKSUAL PRIA
1. Fase Eksitasi
Fase ini dimulai dengan stimulasi fisik atau psikologi
yang berlangsungdari beberapa menit sampai beberapa jam. Terjadi ereksi puting
susu dan penis serta meningkatnya tekanan darah dan nadi. Otot menjadi tegang
dan terdapat penumpukan darah pada ekstrimitas yang disertai vasokongesti dalam
penis dan skrotum serta pembengkakkan dan elevasi testis
2. Fase Plateau
Testis membesar sebanyak 50% dan terjadi pula
pembesaran prostat dan penis.
Terjadi peningkatan aliran darah dalam kelenjar
Bulbourehthralis ( gl.Cowper’s) yang menskresi cairan pre ejakulasi yang dapat
mengandung sperma.
Terjadi peningkatan nadi, tekanan darah, frekuensi
pernafasan dan ketegangan otot.
3. Fase Orgasmik
Pada fase orgasme terjadi pelepasan ketegangan seksual
dan fase ini dapat berlangsung tanpa stimulasi fisik yang nyata. Terjadi
kontraksi ritmis vesika seminalis, vas deferen dan prostat.
Duktus ejakulatorius mendorong semen masuk kedalam
urethra dan terjadi ejakulasi melalui kontraksi urethra.
Pada fase ini terjadi kontraksi sfingter ani.
4. Fase Resolusi
Pada fase resolusi ukuran genital dan penis berkurang
dan menjadi lemas. Testis kembali desensus. Tekanan darah, denyut nadi dan
pernafasan kembali ke normal
5. Fase Refrakter
Fase refrakter terjadi pada pria dan oleh karena itu
bagi pria tidak mungkin terjadi multiple orgasme seperti pada wanita. Pada fase
ini, stimulasi dalam bentuk apapun tidak dapat menyebabkan ejakulasi. Fase ini
berlangsung beberapa menit pada orang muda namun sampai bebera jam atau hari
pada orang yang lebih tua.
PENGARUH USIA TERHADAP KEHIDUPAN SEKSUAL
Perilaku seksual dari setiap pasangan tidak sama.
Perilaku seksual dipengaruhi oleh faktor usia dan evolusi hubungan seksual.
Gangguan seksual dapat terjadi akibat gangguan penyesuaian dengan adanya
perubahan fase hubungan internal dengan pasangannya.
MASA REMAJA
Masa remaja ditandai dengan kapasitas gairah seksual
yang tinggi dan ingin mengetahui apakah dirinya memiliki daya tarik seksual
terhadap lawan jenisnya. Kebutuhan untuk memahami perilaku seksual ini memiliki
kepekaan emosinal yang amat tinggi. Pengalaman seksual yang tidak memuaskan
saat itu akan menyebabkan masalah kelak dikemudian hari. Wanita muda pada usia
belasan tahun memiliki resiko tinggi terjadinya kehamilan yang tak
dikehendaki ( unwanted pregnancy ) akibat tidak
memiliki pengetahuan mengenai cara pencegahan kehamilan.
PASANGAN SEKSUAL
Pada bulan bulan pertama suatu hubungan laki dan perempuan
ditandai dengan sering terjadinya aktivitas seksual namun pasangan tersebut
harus membina suatu komunikasi yang baik agar cepat memahami bagaimana membina
hubungan mereka agar satu sama lain dapat mengerti perilaku seksual
pasangannya. Bila hal itu tidak terjadi maka akan terjadi gangguan pola
hubungan seperti misalnya ejakulasi dini atau pasangan pria akan melakukan
aktivitas seksual yang tidak biasa dan tak lazim.
PASCA PERSALINAN
Waktu yang diperlukan untuk kembalinya hasrat seksual
pasca persalinan sangat beragam dan pada seorang wanita dapat berlangsung
beberapa bulan sampai bertahun. Masalah umumnya berangkat dari rasa sakit
akibat episiotomi , depresi pasca persalinan namun seringkali hal ini akibat
rasa lelah dalam mengasuh bayinya.
USIA PARUH BAYA
Saat kemesraan hubungan seksual memudar, aktivitas
seksual menjadi jarang dan hal ini dapat menimbulkan kecemasan. Pasangan merasa
enggan untuk sering melakukan aktivitas seksual. Beban pekerjaan dan kesibukan sosial
menyebabkan pasangan kehilangan waktu waktu santai. Beberapa tahun menjelang
menopause seorang wanita sering mengalami gangguan haid. Pasca menopause dapat
terjadi hilangnya hasrat seksual atau akibat adanya dispareunia akibat vagina
yang kering, dan hal ini dapat diatasi dengan pemberian krim estrogen.
USIA TUA
Hilangnya kemampuan ereksi bertambah dengan
bertambahnya usia atau akibat penyakit fisik. Pasangan sering tidak dapat
menerima hal ini dan cenderung untuk mencari pengobatan guna mengembalikan
vitalitasnya.
FUNGSI SEKSUAL
Perlu disadari bahwa sejumlah pasangan mempunyai
pandangan yang berbeda dengan pasangan yang lain, rentang normal dari suatu perilaku
seksual adalah sangat luas.
1. FUNGSI REPRODUKSI
Pada saat ini , umumnya satu keluarga menginginkan dua
anak. Pandangan ini tak jarang menyebabkan terbatasnya peranan hubungan seksual
dalam kehidupan mereka. Bagi pasangan dengan gangguan kesuburan hal ini akan
dapat menyebabkan gangguan dalam kehidupan sesual mereka. Setelah memiliki
jumlah anak yang dikehendaki, mereka sulit untuk melakukan hubungan seksual
hanya atas dasar rekreasi belaka
2. REKREASI
Hubungan seksual sering dikaitkan dengan satu
kenikmatan belaka sehingga sejumlah hal tabu seputar kenikmatan seksual menjadi
lebih bersifat satu khayalan dibanding kenyataan.
3. IKATAN PASANGAN
Menikmati aktivitas seksual menurunkan ketegangan
hubungan pasangan seksual, dan dapat menguatkan ikatan batin antara keduanya.
Seseorang dengan jenis perilaku kekerasan tertentu, seperti sering melakukan
kekerasan terhadap anaknya amat sulit menikmati kehidupan seksualnya.
4. JATIDIRI SEKSUALITAS
Seseorang sering memakai aktivitas seksual untuk meyakinkan
kemampuan seksualitas dirinya. Hal ini sering terlihat pada masa remaja, namun
tak jarang pola ini berlanjut terus atau berulang saat yang bersangkutan
menderita ketegangan emosional.
5. KEPERCAYAAN DIRI
Kepuasan seksual dapat memperbaiki rasa percaya diri
seseorang dan sebaliknya ketidak mampuan untuk memperoleh kepuasan seksual akan
dapat meruntuhkan rasa percaya diri. Seseorang yang sulit memperoleh kepuasan
seksual dalam pekerjaan akan cenderung untuk punya sifat memaksa dan hal ini
justru akan berakibat buruk dalam kinerja nya.
6. MENDAPATKAN KEKUATAN
Sejumlah orang melihat hubungan seksual sebagai satu
cara untuk memperlihatkan dominasi dan memiliki satu tujuan tertentu. Hal ini
dapat dilaksanakan pada aktivitas sanggama itu sendiri atau melalui kekuatan
lain yang dapat memungkinkan satu aktivitas seksual dapat berlangsung atau
justru tidak dapat berlangsung.
7. PELAMPIASAN PERASAAN
Pada beberapa orang, rasa marah tidak sesuai dengan gairah
seksual, namun pada sejumlah orang lain rasa marah dapat memperkuat gairah
seksual dan mereka menggunakan aktivitas seksual yang kasar dan tak lazim untuk
melampiaskan rasa marahnya. Perkosaan dan penyalahgunaan seksual adalah salah
satu bentuk kekerasan dan bukan semata mata hasrat seksual.
8. MENGURANGI KECEMASAN DAN KETEGANGAN EMOSIONAL
Orgasme sering digunakan sebagai satu sarana pelepasan
ketegangan emosional terutama pada yang terbiasa melakukan masturbasi. Mereka
sering melakukan hal tersebut saat mengalami ketegangan emosional. Seseorang
yang terbiasa dengan menggunakan masturbasi sebagai sarana pelepasan ketegangan
emosional akan mengalami kesulitan dalam penyesuaian dengan kehidupan
seksualnya setelah menikah.
9. PENGAMBILAN RESIKO
Resiko aktivitas seksual beragam mulai dari rasa takut
ketahuan sampai menderita infeksi HIV. Untuk sejumlah orang, unsur-unsur resiko
tersebut justru dapat menambah kenikmatan mereka.
10. MATERI
Prostitusi adalah bentuk yang jelas dari aktivitas
seksual untuk memperoleh keuntungan dan hal ini sering merupakan akibat dari
kemiskinan. Pernikahan, sampai masa ini masih sering dilandasi oleh keinginan
untuk memperoleh satu bentuk perlindungan dan bukan semata mata ikatan
emosional komitmen untuk hidup bersama.
ANAMNESA SEKSUAL
Sejumlah masalah seksual sering disamarkan sebagai
keluhan nyeri panggul atau dapat diperoleh secara kebetulan melalui anamnesa
untuk hal lain seperti saat konseling kontrasepsi. Bukan satu hal yang
bijaksana untuk mendapatkan informasi kehidupan seksual seorang pasien secara
terinci tanpa memandang keluhannya. Di klinik ginekologi, masalah aktivitas
seksual dapat diketahui melalui satu atau dua pertanyaan antara lain : “ apakah
terdapat masalah dalam melakukan aktivitas sanggama ?” atau “ apakah ada
keluhan saat melakukan sanggama?”. Untuk sejumlah pasien pertanyaan ini tidak
perlu diberikan, namun untuk sejumlah pasien lain jawaban atas pertanyaan
tersebut memberikan kesempatan untuk mengetahui adanya masalah klinik yang ada.
Mengembangkan pertanyaan mengani masalah seksual dapat
diperoleh melalui anamnesa namun informasi yang penting akan diperoleh melalui
pemeriksaan. Dokter harus memahami bila hal hal yang menyangkut masalah ini
bagi pasien adalah hal yang amat memalukan untuk dibicarakan secara terbuka.
Pendekatan secara simpatik dan pertanyaan yang berdasarkan pada fakta akan
membantu menghilangkan rasa malu pasien. Perbendaharaan kata kata yang
digunakan harus tepat dan menghindari hal hal yang bersifat tehnis dan yang
jorok.
Hal lain yang biasanya sangat membantu adalah bertemu
dengan kedua pasangan sekaligus namun hal ini tidak sela;lu perlu pada
pertemuan awal. Pasien sering merasa lebih nyaman dan terbuka bila melakukan
wawancara dengan dokter sendirian tanpa didampingi pasangannya. Saat dokter
akan menentukan terapi maka kedua pasangan harus dilibatkan.
Anamnesa harus dilakukan secara lengkap namun bila
terlampau dalam akan terasa tidak menyenangkan bagi pasien. Bila hal yang
dibahas adalah hal yang sensitif, maka pokok bahasan terlebih dulu dialihkan ke
pertanyaan lain sebelum kembali ke pokok masalah.
Kadang kadang untuk membahas satu masalah yang
sensitif diperlukan lebih dari satu sesi pembicaraan dimana pembicaraan berikut
berlangsung dilakukan analisa hasil pembicaraan yang pertama. Seringkali bahwa
pertanyaan yang detil mengenai satu masalah tertentu lebih berguna dibandingkan
pertanyaan yang bersifat umum. Seperti missalnya, bila pasien ditanya mengenai
“ seberapa sering anda melakukan aktivitas seksual setiap hari atau setiap
minggu ?” maka jawabannya adalah yang apa yang dipikirkan pasien bukan fakta
yang ada ( misalnya dua kali seminggu ) . Pertanyya yang diajukan lebih baik
adalah “ kapan ada melakukan sanggama terakhir? ” dan pertanyaan selanjutnya
adalah :” apakah anda memperoleh kepuasan dengan aktivitas sanggama terakhir
itu ?”. Pertanyaan terbuka juga dapat diajukan seperti misalnya “ apa yang anda
rasakan saat anda merasa kepuasan itu terjadi? “
Sejumlah pasien khususnya yang ditanya pertama kalinya
mengenai masalah seksual yang terjadi akan susah mengungkapkan dalam bentuk
perkataan. Akan lebih membantu seandainya dokter membantu pasien dalam menjawab
dengan menawarkan kalimat jawaban “ Saya menduga bahwa dalam menjawab
pertanyaan saya tadi anda akan mengatakan hal seperti ini
......................” Pasien umumnya akan memberikan respon positif bila apa
yang disampaikan oleh dokter tersebut sesuai dengan yang dia alami. Dokter
harus selalu berhati hati dalam menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi dari apa
yang disampaikan oleh pasien.
5.Pengkajian kesehatan seksualitas
Pengkajian
katagori :
- klien menerima pelayanan kesehatan untuk kehamilan, dll, atau PMS
- klien yang sakit atau dalam mendapat terapi yang kemungkinan dapat mempengaruhi fungsi seksualnya
- klien yang secara jelas mempunyai masalah seksual
Pengkajian seksual mencakup:
1. Riwayat Kesehatan Seksual
- pertanyaan masa lalu atau tidak mengetahui apakah klien mempunyai masalah kekhawatiran seksual.
2. Pengkajian Fisik
- inspeksi dan palpasi
3. Identfkasi klien yang beresiko
Misalnya :
- adanya gangguan struktur atau fungsi tubuh akibat trauma, dll
- riwayat pnganiayaan seksual.
- kondisi yang tidak menyenangkan
- terapi medikasi spesifik yang dapat menyenangkan masalah seksual.
- gangguan aktivitas fisik sementara maupun permanen
- konflik nilai-nilai antara kepercayaan pribadi dengan aturan religi
Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan pola seksualitas berhubungan dengan (b.d)
- ketakutan kehamilan
- efek antihipertensi
- depresi perpisahan dengan perceraian
2. Disfungsi seksual b.d
- cedera medulla spinalis
- penyakit kronis
- nyeri
- ansietas mengenai penempatan di RS
3. Gangguan Citra tubuh b.d
- efek masektomi
- disfungsi seksual
- perubahan pasca persalinan
4. Ganguan harga diri b.d
- kerentanan yang dirasakan setelah mengalami serangan infrak miokardium
- pola penganiayan ketika masih kecil
Perencanaan
tujuan yang dicapai mencakup :
- mempertahankan, memperbaiki, atau meningkatkan kesehatan seksual
- meningkatkan pengtahuan seksualitas dan kesehatan
- mencegah PMS
- mecegah kehamilan yang tidak diinginkan
- meningkatkan kepuasan terhadap tingkat fungsi seksual
- memperbaiki konsep seksual diri
Implementasi
. Proses kesehatan seksual
. perawat : keterampilan komuniksi yang baik
. Topik tentang penyuluhan tergantung karakteristik dan faktor yang berhubungn
. Rujukan mungkin diperlukan
Evaluasi
. Evaluasi tujuan yang telah ditentukan dalam perencanaan
. Klien, pasangan perawat mungkin harus mengubah harapan atau menetapkan jangka waktu yang lebih sesuai untuk mencapai tujuan yang ditetapkan
. Komunikasi terbuka dan harga diri yang positif dalam artian penting.
6. Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan
pola seksualitas berhubungan dengan (b.d)
· Ketakutan
kehamilan
· Efek
antihipertensi
· Depresi
perpisahan dengan perceraian
1. Disfungsi
seksual b.d
· cedera
medulla spinalis
· penyakit
kronis
· nyeri
· ansietas
mengenai penempatan di RS
1. Gangguan
Citra tubuh b.d
· efek
masektomi
· disfungsi
seksual
· perubahan
pasca persalinan
1. Ganguan
harga diri b.d
· kerentanan
yang dirasakan setelah mengalami serangan infrak miokardium
· pola
penganiayan ketika masih kecil
7. Perencanaan Tujuan yang dicapai mencakup :
· mempertahankan,
memperbaiki, atau meningkatkan kesehatan seksual
· meningkatkan
pengtahuan seksualitas dan kesehatan
· mencegah
PMS
· mecegah
kehamilan yang tidak diinginkan
· meningkatkan
kepuasan terhadap tingkat fungsi seksual
· memperbaiki
konsep seksual diri
8. Implementasi
· Proses kesehatan seksual
· perawat : keterampilan komuniksi
yang baik
· Topik tentang penyuluhan tergantung
karakteristik dan faktor yang berhubungn
· Rujukan
mungkin diperlukan
9. Evaluasi
· Evaluasi
tujuan yang telah ditentukan dalam perencanaan
· Klien,
pasangan perawat mungkin harus mengubah harapan atau menetapkan jangka waktu
yang lebih sesuai untuk mencapai tujuan yang ditetapkan
· Komunikasi
terbuka dan harga diri yang positif dalam artian penting.










Comments
Post a Comment